Sepanjang hari ini Jakarta tidak disinggahi hujan.
Mungkin sebagian orang menyukai keringnya Jakarta, tapi tidak begitu denganku. Entah, aku mengapa aku rindu. padahal baru saja kemarin di sebuah sore ia turun. Tapi mengapa aku sudah sangat rindu? Rasanya seperti berabad aku tak melihatnya. Aku rindu suaranya, baunya, dinginnya, wujudnya, bahkan aku rindu bersentuhan dengannya. Persis seperti aku merindukan dia.
Dia. Tak akan pernah bosan aku menceritakan tentang dia. Seorang yang pernah menjadi bagian dari masalalu dan kini berperan di masa kini. Entah bagaimana dengan masa yang akan datang? Aku tidak berani masuk kebagian itu. Jangankan untuk merangkaikan kata, membayangkannya pun aku ketakutan. Aku akan bercerita tentang hari ini saja. Hari ini, dan bercerita sedikit tentang dia di hari kemarin dan kemarinnya lagi. Dia, seorang pria jawa, sesorang yang memiliki senyum termanis yang pernah aku lihat. Seorang yang berbeda usia hanya dua tahun dari usiaku. Mengapa sebelumnya aku menyebutkan ia adalah seorang dari masa lalu karena dulu sekali saat usiaku masih belasan dan sama sekali tidak berpengalaman membuat atau meramu kehidupan cinta, ia mengajarkanku bagaimana mencintai dan membuatku merasa dicintai. Cerita cinta dua makhluk berusia belasan tahun yang hanya dipenuhi mimpi tanpa referensi.
-->sedikit tentang dia (ini bersambung tentu saja)
untuk pertama kalinya dipenghujun tahun setelah sekian lama tidak menulis sebuah cerita panjang


